Sebagai manusia kita tentu pernah mengeluh semisal, “saya tidak tahan dengan cemooh orang itu”, “mengapa harus saya yang dijadikan bahan cemooh?”, “mengapa Tuhan memberikanku cobaan seberat ini?” atau keluhan lain yang serupa dengan itu. Ya, benar. Sangatlah manusiawi memang. Ketika masalah datang menghampiri. Ketika hati merasa terzalimi. Nafsu menggoda untuk berpaling dari sabar. Hingga sedih berlarut-larut. Maka disitu akan kita dapati iman tengah melemah.
Kobaran benci menyulut emosi. Menyebarluaskan kejelekan-kejelakan dan mendoakan sesuatu yang tak baik bagi orang yang membebani kita. Astaghfirullah. Begitulah hati yang sedang tertutup amarah. Tak ada cahaya.
Sungguh bukan matamu yang buta, tapi hati di dalam dada (QS. Al Hajj : 46)
Tengoklah jiwa-jiwa pejuang. Mereka tidak berbuat begitu. Mereka para pejuang, memandang orang-orang yang menyakiti hatinya, menguji kesabarannya, adalah orang-orang yang dipinjam Allah sebagai proses pendewasaan dan pematangan bagi kesempurnaan pribadinya





