
Bismillaahirraahmaanirrahiim...
Pagi itu dari balik pintu, terlihat sosok lelaki paruh baya mendekati kelas kami. Tubuhnya tinggi, beberapa helai rambutnya sudah memutih, dan mengenakan jas merah yang warnanya sudah agak pudar menurutku. Kelas kami seketika menjadi tenang.
Maklum, ini adalah kali pertama kami bertemu beliau, dosen mata kuliah Metodologi Penelitian. Tentunya kami harus memberikan kesan perkenalan yang manis. Paling tidak menghargai keberadaannya saat memasuki kelas. Setelah meletakkan ransel hitamnya, ia pun memperkenalkan diri.
“Sudah ada yang kenal saya ?”, katanya.
“Sudaaahh”, jawab kami serempak.
Padahal kami cuma sekedar tahu nama bapak dari lembar absensi.
Beliau tersenyum, lalu menuliskan namanya di papan tulis. A. Chaedar Alwasilah namanya. Alwasilah ? Kok, rasanya saya tidak asing mendengar namanya. Sepertinya saya pernah membaca buku beliau, atau mungkin hanya sekedar melihat namanya di daftar pustaka sebuah buku ? Hmm, entahlah.
“Untuk pertemuan pertama ini terlebih dulu saya ingin memberikan survey kecil-kecilan”, kata pak Chaedar.
“Begini. Kalian sedang membaca sebuah buku, terserah apakah itu buku berbahasa Jepang atau Indonesia. Lalu, kalian tidak mengerti maksud dari teks yang ada di buku itu. Nah, kira-kira mengapa kalian tidak mengerti ? Tulis di kertas kalian, misalnya [Saya tidak mengerti karena .............], lanjut beliau.
Kami mulai berpikir, dan menuliskan alasan kami. Saat itu saya menulis :
‘Saya tidak mengerti karena kurang wawasan tentang teks itu’.
Setelah semua selesai menuliskan alasannya. Pak Chaedar mulai bertanya satu-satu pada kami. Dan berikut hasil jawaban kami yang dikategorikan ke dalam 7 alasan :
Saya tidak mengerti karena :
- Karena tidak sesuai dengan bidang saya (4 orang)
- Karena kurang wawasan (2 orang)
- Karena tidak fokus (2 orang)
- Karena kurang kosakata (8 orang)
- Karena baru pertama kali baca (1 orang)
- Karena tidak tahu teknik membaca (1 orang)
- Karena bahasanya terlalu ilmiah (4 orang)
Glek ! Seketika itu kelas kami tiba-tiba hening, bungkam tanpa suara. Semua terdiam termasuk saya.
“Mengapa tidak ada yang menyalahkan buku atau orang yang menulis buku itu?, lanjut Pak Chaedar.
“Kalian adalah produk dari pendidikan saat ini. Dan ini menunjukkan bahwa ada hal yang perlu diperbaiki dalam pendidikan kita. Mengapa ? Karena pendidikan kita sebagian besar menghasilkan orang-orang yang apatis, tidak kritis. Meskipun 1 dari jawaban diatas mampu menyalahkan teks (jawaban no. 7). Sebagian besar yang lain masih menyalahkan diri sendiri”, tegasnya.
Pagi itu Pak Chaedar menggetarkan semua hati mahasiswa yang ada di ruang kelas saat itu. Suaranya terdengar tenang, namun berhasil membuat kami tercengang. Ada kesadaran yang terbangun. Kesadaran tentang pentingnya untuk bersikap bijak dalam menilai sesuatu.
Teringat candaan seorang kawan kuliah, katanya orang yang paling bijak adalah pemain billiard karena mampu melihat dari berbagai sudut pandang. Ah ada-ada saja : )
Bandung, 24 Oktober 2013
Pukul 09.10 WIB
(selepas mengerjakan tugas terjemahan)
Sumber gambar :
https://smoothzensations.files.wordpress.com/2015/10/books-mood-photo-hd-wallpaper.jpg
aq ga paham cerita diatas karena.....
BalasHapuskarena bacanya tak ditemani serabi, makanya tak paham :)
Hapushaha... "tugasmulah penulis, bagaimana aku mengerti" terangku :D
BalasHapushehe..betul tu pak cik...
Hapusaih, merasa bangga dikunjungi wartawan tarbawi *sumringah*
serabi? hehhee
BalasHapusoohh... gitu ya.. kalo gak bilyard ya karambol yaa.. hehe
surabi maksudnya mba noor :D
Hapusnah iya, karambol juga bisa, wah mba noor kayaknya ahli, hehe..
hum iya di manusia selalu menyalahkan dan menjelekkan diri sendiri. beljar meki ini menghargai diri. hum patut kuingat-ingat ini siapa tau esduaka bede di tempatmu fufufufu kutaumi jawabanna haha
BalasHapushaha...iya rin betul betul betul, ingat-ingat memang mi, pantau2 juga itu situsnya dikti :)
Hapusbetul kata pak diatas.., *sambil merenung
BalasHapusselain kritis jg hrs beradab dan memberi masukan dr apa yg dikritis...
sepakat sama rohis *kasih jempol*
Hapusmelakukan segala sesuatu hendaknya beradab termasuk mengkritik...
Pemain billiard, selain bisa melihat dari berbagai sudut pandang namun juga pandai dalam mem
BalasHapus'posisi"kan dalam arti dimana kita hidup kita harus posisi kita sebagai apa dan se-wajarnya.
iya betul juga mba titis, u've got that point.
Hapusterutama dlm mengingat posisi kita sebagai hamba Allah yang saling bersaudara, maka saat mengkritik tidak pantaslah kita saling menjatuhkan satu sama lain :)
saya gak paham karena gak punya bukunya ... #nah lo
BalasHapushaha...om stumon, bisa jadi..bisa jadi... *kasih jempol*
HapusSaya paham kok artikel ini,, jadi tak perlu saya salahkan hehe
BalasHapusfiuhh trimakasih Tuhan...akhirnya, ada juga yang paham, hehe..
HapusSaya mengerti kok maksudnya, nis :D
BalasHapusOmong-omong soal perumpamaan pemain biliard boleh juga tuh.
brarti mba anggi cerdas bisa paham, hehe...
HapusAssalamu 'alaikum wr. wb.
BalasHapusbaru menyempatkan diri untuk berkunjung
survei dari dosennya boleh juga tuh, memang sih, selalu sj kita hanya menyalahkan diri jika tak ngerti dll, tapi kan bisa dijadikan sebagai ntropeksi diri, biar semakin baik dalam melatih diri dan gigih menjadi yng lebih baik, :D
apapun itu, yang penting silaturahim dalam ngeblog tetep lancar :)
salam silaturahim dari sulawesi, nak palopo :D
Wa'alaykumussalam waraohmatullahi wabarokatuh...
Hapuswaahh kak neni anak palopo juga ? aihh salam kenal...
Iye, mungkin orang Indonesia terlalu baik, dan terlalu suka mengintrospeksi diri, jadinya sebelum menyalahkan org lain, dia menyalahkan diri sendiri terlebih dulu kak, hehe..
iya cikali, begitumi kapang di'... :D
HapusIndonesia githu loh,