Senin, November 04, 2013

Yang Digunakan Allah untuk Pendewasaanmu

 
Bismillaahirrahmaanirrahiim...


Sebagai manusia kita tentu pernah mengeluh semisal, “saya tidak tahan dengan cemooh orang itu”, “mengapa harus saya yang dijadikan bahan cemooh?”, “mengapa Tuhan memberikanku cobaan seberat ini?” atau keluhan lain yang serupa dengan itu. Ya, benar. Sangatlah manusiawi memang. Ketika masalah datang menghampiri. Ketika hati merasa terzalimi. Nafsu menggoda untuk berpaling dari sabar. Hingga sedih berlarut-larut. Maka disitu akan kita dapati iman tengah melemah.

Kobaran benci menyulut emosi. Menyebarluaskan kejelekan-kejelakan dan mendoakan sesuatu yang tak baik bagi orang yang membebani kita. Astaghfirullah. Begitulah hati yang sedang tertutup amarah. Tak ada cahaya.
Sungguh bukan matamu yang buta, tapi hati di dalam dada (QS. Al Hajj : 46)
Tengoklah jiwa-jiwa pejuang. Mereka tidak berbuat begitu. Mereka para pejuang, memandang orang-orang yang menyakiti hatinya, menguji kesabarannya, adalah orang-orang yang dipinjam Allah sebagai proses pendewasaan dan pematangan bagi kesempurnaan pribadinya
Jangan merasa tidak nyaman dengan orang-orang yang 'digunakan' Tuhan untuk menjadi alat atau faktor pengubah atau pemrosesan Anda. Bila Anda mebenci mereka, sama seperti membenci proses pembentukan yang akan menyempurnakan Anda.(Dedy Susanto – Penulis buku Pemulihan Jiwa) 
Tidak sedikit yang mau bangkit dari penghinaan orang lain. Hanya jiwa-jiwa pecundang yang terus berlari menjauh, tidak berani membusungkan dada dan berjalan tegap menghadapi ujian pendewasaan. Bukankah pelaut handal, tercipta dari ombak yang besar ? Dan tahukah bahwa pelaut handal adalah suku Bugis karena memiliki Kapal Pinisi dan peribahasa “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke tepian”. (Ups...maaf yang ini out of focus, hehe).

Kesedihan yang kita rasakan, seringkali dikarenakan ketidaktahuan kita. Ya. Ketidaktahuan kita akan maksud tersembunyi yang Allah sediakan dibalik ujian itu. Ketidaktahuan kita akan bagaimana memaknai masalah sebagai sapaan dari Allah agar kita lebih dekat padaNya.

Tegarlah. Lapangkan dada. Beranilah. Bukankah Allah telah menjamin bahwa Dia tidak akan memberi ujian yang melampaui batas kemampuan kita ? Kalaulah kita mendapat cacian. Biarlah Allah yang membalasnya kemudian. Sungguh kita masih punya baaaanyak teman dan keluarga yang peduli. Tegakkan kembali semangat. Teguhlah menebar manfaat dan berkasih sayanglah...
Di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar pemberani. Semua orang pasti punya rasa takut. Tapi hanya mereka yang bisa mengalahkan rasa takutnya yang pantas disebut pemberani. (Dahlian – Penulis novel Andai Kau Tahu)

Bandung 2 November 2012
Sabtu, 22. 58 WIB

Sumber gambar :
https://static1.squarespace.com/static/55b978aae4b024f5257150ae/55d0c7afe4b08cb2994dc984/5615acd1e4b03839a6420daf/1454546874285/?format=1500w

5 komentar:

  1. betul juga ya kak, ujian yang kita terima itu semata-mata untuk membentuk diri kita lebih kuat. Seperti para pelaut yang berani melawan ombak.

    BalasHapus
  2. ayo jiwa pulihlah... puliiih

    BalasHapus
  3. Kalaulah kita mendapat cacian. Biarlah Allah yang membalasnya kemudian.

    BalasHapus
  4. Kobaran benci menyulut emosi. Menyebarluaskan kejelekan-kejelakan dan mendoakan sesuatu yang tak baik bagi orang yang membebani kita. Astaghfirullah. Begitulah hati yang sedang tertutup amarah. Tak ada cahaya. Sungguh bukan matamu yang buta, tapi hati di dalam dada (QS. Al Hajj : 46)

    #na'udzubillah.

    BalasHapus

Jangan lupa tinggalkan jejak ya
Trimakasih...