Jumat, Desember 06, 2013

Contreng Mimpi Ke 24 : Memegang Ujung Pelangi

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

“Bermimpilah ! Memeluk bulan sekalipun. Bermimpilah ! Karena mimpi adalah cermin kehidupan. Bermimpi adalah awal sesuatu untuk menjadi nyata. Takkan ada yang menyalahkanmu karena mimpi. Tak pernah ada yang salah juga dari sebuah mimpi. Bermimpilah, dengan sempurna, lalu ubahlah menjadi kenyataan!” – Oki Setiana Dewi

Begitulah kutipan dalam novel 'Sejuta Pelangi' karya Oki Setiana Dewi. Ya, tulisanku kali ini menceritakan tentang The Power of the Dreams. Apa? Celine Dion ? Oh, bukan. Ini bukan tentang mereview lagu mak cik Celine Dion. Tapi ini tentang kisahku. Kisah yang berawal dari sebuah mimpi.

Baiklah, sebenarnya kali ini aku ingin memberitahumu sebuah rahasia. Ya. Rahasia yang ibu dan ayahku pun tak mengetahuinya. Rahasia yang menjadi benang merah antara aku dan hidupku. Rahasia itu adalah "daftar mimpi". Apa ? Tak menarik ? Hehe, tak mengapa kalau kamu menganggapnya tak menarik. Tapi kukatakan saja, bahwa ini adalah salah satu resep rahasia terwujudnya semua mimpi-mimpi itu, yaitu dengan menulisnya. Tak percaya ? Coba saja sendiri, dan rasakan keajaiban itu.

Sebenarnya aku menargetkan 100 mimpi untuk kutuliskan di dalamnya, tapi sampai detik ini daftar itu belum juga genap 100. Ternyata menulis mimpi tak semudah yang kubayangkan. Masya Allah, menulis mimpi saja susah, apalagi mewujudkannya ya. Ah, tak mengapa. Teruskan saja bermimpi selagi gratis.

Nah, kali ini mimpi ke-24 "Memegang Ujung Pelangi" siap untuk dicontreng. Ah, senang rasanya. Aku tidak pernah terpikir bagaimana caranya agar bisa memegang ujung pelangi. Memegang pelangi saja tidak terpikir, apalagi ujungnya. Yang aku tahu adalah "tuliskan". Adapun caranya, itu bukan wilayahku. Biarkan Allah Sang Maha Tahu yang menyusun ceritanya.

Jumat, November 15, 2013

Untukmu yang Menginspirasi

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Kau mungkin tak pernah tahu. Seberapa besar aku cemburu padamu. Pada mimpi-mimpimu yang terus kau perjuangkan dengan gagah. Pada jalan hidup yang kau pilih dengan bangga. Pada karya-karya yang kau tulis dengan tutur istimewa.

Kau mungkin juga tak pernah menyangka. Aku menyimpan tulisan-tulisanmu. Menjadi penikmat status-statusmu. Memperhatikan tutur katamu. Hanya untuk bisa belajar darimu.

Ya. Aku selalu mencoba mengambil sesuatu yang baik darimu. Tapi, setiap kali aku mencoba. Setiap kali itu pula aku sadar. Aku tak bisa menyamaimu. Kau membuat sepotong hatiku jatuh cinta pada menulis. Meski itu hanya sepotong, tak utuh. Candamu gurih, tak lebih, tak kurang. Pas. Petuahmu menyiangi nurani.

Memang kita belum pernah bertemu. Aku tak tahu karakter aslimu. Atau pun sisi kekuranganmu. Tapi aku tak tertarik dengan itu. Karena kelemahan selalu punya ruang bagi kita, manusia. Jadi, biarkan aku dan kekagumanku. Dan kau dengan sosok inspiratifmu.

Bandung, 15 November 2013
Sabtu 22.38 WIB
(dalam lantunan Ashita Hareru Kana yang terus berulang)

Sumber gambar :
https://w-dog.net/wallpapers/13/13/425847236369064/book-cup-coffee-glasses-bouquet-flowers-book-cup-coffee-glasses-bouquet-flower.jpg

Minggu, November 10, 2013

Kanji




Sejumlah garis menyusun makna
Pena terbata-bata menulisnya
Menafsirkan pun tak semudah mengukirnya
Hingga mata enggan melirik garis-garisnya

Aih, apalah daya jua
Ini tugas dari dosen kita
Meski pening mendarat di kepala
Mahasiswa giat haruslah bisa

頑張りましょう。。。


Senin, November 04, 2013

Yang Digunakan Allah untuk Pendewasaanmu

 
Bismillaahirrahmaanirrahiim...


Sebagai manusia kita tentu pernah mengeluh semisal, “saya tidak tahan dengan cemooh orang itu”, “mengapa harus saya yang dijadikan bahan cemooh?”, “mengapa Tuhan memberikanku cobaan seberat ini?” atau keluhan lain yang serupa dengan itu. Ya, benar. Sangatlah manusiawi memang. Ketika masalah datang menghampiri. Ketika hati merasa terzalimi. Nafsu menggoda untuk berpaling dari sabar. Hingga sedih berlarut-larut. Maka disitu akan kita dapati iman tengah melemah.

Kobaran benci menyulut emosi. Menyebarluaskan kejelekan-kejelakan dan mendoakan sesuatu yang tak baik bagi orang yang membebani kita. Astaghfirullah. Begitulah hati yang sedang tertutup amarah. Tak ada cahaya.
Sungguh bukan matamu yang buta, tapi hati di dalam dada (QS. Al Hajj : 46)
Tengoklah jiwa-jiwa pejuang. Mereka tidak berbuat begitu. Mereka para pejuang, memandang orang-orang yang menyakiti hatinya, menguji kesabarannya, adalah orang-orang yang dipinjam Allah sebagai proses pendewasaan dan pematangan bagi kesempurnaan pribadinya

Minggu, Oktober 27, 2013

Guru yang Menyentuh Hati


Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Semua guru adalah guru Bahasa Indonesia dan guru Agama”.
(Dr. H. Andoyo Sastromihardjo, M.Pd)
Hey, kini aku punya dosen yang paling aku suka. Setidaknya untuk saat ini. Kenapa untuk saat ini ? Karena beliau baru mengajar kami 3 hari, itupun pada masa orientasi kampus. Tiga kali mungkin terlalu cepat untuk menyimpulkan sesuatu. Tapi yang jelas aku suka. Itu saja. Bertemu beliau membuatku ingin beralih ke Jurusan Bahasa Indonesia. Tidak hanya aku, tapi temanku yang lain juga berpikir sama.

Namanya pak Andoyo Sastromihardjo. Ia dosen Bahasa Indonesia. Saat itu ia mengajarkan kami Academic Writing pada masa orientasi kampus. Kenapa aku suka? Karena cara beliau yang sangat bijak dalam mengajar. Bahasanya santun, menghargai setiap pendapat siswanya, dan sesekali menghubungkan materi dengan pendidikan agama. Hati dan logika kami pun mudah menerima penjelasannya. Ah, ini baru namanya Pendidikan Berkarakter, pikirku. Mengikuti kuliahnya, selalu ada kesadaran baru yang terbangun.

Kamis, Oktober 24, 2013

Bijak dalam Menilai


Bismillaahirraahmaanirrahiim...

Pagi itu dari balik pintu, terlihat sosok lelaki paruh baya mendekati kelas kami. Tubuhnya tinggi, beberapa helai rambutnya sudah memutih, dan mengenakan jas merah yang warnanya sudah agak pudar menurutku. Kelas kami seketika menjadi tenang.

Maklum, ini adalah kali pertama kami bertemu beliau, dosen mata kuliah Metodologi Penelitian. Tentunya kami harus memberikan kesan perkenalan yang manis. Paling tidak menghargai keberadaannya saat memasuki kelas. Setelah meletakkan ransel hitamnya, ia pun memperkenalkan diri. 

“Sudah ada yang kenal saya ?”, katanya.
“Sudaaahh”, jawab kami serempak.

Padahal kami cuma sekedar tahu nama bapak dari lembar absensi. Beliau tersenyum, lalu menuliskan namanya di papan tulis. A. Chaedar Alwasilah namanya. Alwasilah ? Kok, rasanya saya tidak asing mendengar namanya. Sepertinya saya pernah membaca buku beliau, atau mungkin hanya sekedar melihat namanya di daftar pustaka sebuah buku ? Hmm, entahlah.

“Untuk pertemuan pertama ini terlebih dulu saya ingin memberikan survey kecil-kecilan”, kata pak Chaedar. “Begini. Kalian sedang membaca sebuah buku, terserah apakah itu buku berbahasa Jepang atau Indonesia. Lalu, kalian tidak mengerti maksud dari teks yang ada di buku itu. Nah, kira-kira mengapa kalian tidak mengerti ? Tulis di kertas kalian, misalnya [Saya tidak mengerti karena .............], lanjut beliau.