Kamis, Januari 23, 2014

Meninjau Ulang ODOJ (One Day One Juz)


Rekan-rekan yang saya cintai, di beranda saya berulang kali lalu lalang tentang ODOJ. Kemudian karena ada beberapa orang yang bertanya kepada saya tentang ODOJ, saya pun putar sana sini untuk mencari tahu info lengkap seputar itu. Setelah saya mendapatkannya, ternyata ada beberapa hal yang perlu dibicarakan dan ditinjau ulang.

Landasan dari kegiatan ini sangatlah bagus, untuk membiasakan; melatih; memotivasi kaum muslimin agar lebih bersemangat dalam membaca Al-Qur'an setiap harinya. Mudah-mudahan Allah memberi balasan berupa kebaikan terhadap para penggagas dan pelakunya. Berhubung membaca Al-Qur'an adalah salah satu ibadah 'amaliyyah, dan syarat ibadah bisa diterima adalah : IKHLAS dan ITTIBA' (mengikuti petunjuk Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam), maka hendaknya pelaksanaannya pun berada pada koridor syariat.

Berhubung saya mencintai kalian dan menginginkan kebaikan itu ada dalam diri kalian, sebagaimana saya pun ingin kebaikan itu ada dalam diri saya sendiri, maka marilah duduk sejenak dan luangkan waktu Anda untuk membaca beberapa paparan dari saya.


► APA ITU IBADAH ?

Definisi yang kompleks dan representatif mengenai apa sajakah cakupan yang termasuk ibadah, ada dalam definisi milik Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yaitu :
"Suatu kata yang mencakup segala hal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik itu perkataan maupun perbuatan, berupa perkara batin (abstrak/tidak nampak) maupun zhahir (konkret/nampak)." (Majmu' Fatawa Ibn Taimiyyah, Juz 2, Hal 361, melalui Al-Maktabah Asy-Syaamilah)
Sifat dari ibadah adalah tauqiifiyyah [berpijak pada dalil], dan hukum asal ibadah adalah haram hingga ada dalil yang memerintahkannya. Pelaksanaan suatu ibadah bisa berkaitan dengan waktu tertentu atau tidak, bisa juga berkaitan dengan tempat tertentu, bisa juga tidak, tata laksananya pun memang berlandaskan dalil.

Misalnya :
  • Apakah berhubung kita belum punya tabungan cukup atau ada halangan untuk thawaf di Bait Al-'Atiiq (Ka'bah), lalu kita boleh putar-putar Monas atau Senayan saja selama 7 kali sebagai pengganti thawaf, habis itu bolak-balik di situ-situ juga sebanyak 7 kali sebagai pengganti sa'i? Tidak, karena tata cara thawaf-sa'i, begitu juga tempatnya telah ditentukan.
  • Berhubung bacaan shalat shubuh disaksikan malaikat, bolehkah kita melaksanakan shalat shubuh saja seharian penuh, plus ditambah juga raka'atnya jadi banyak sekali sesuka hati kita? Tidak, karena raka'at; tata cara; waktu pelaksanaan shalat shubuh sudah ditentukan.
  • Bolehkah "Yasinan" [membaca Yasin khusus setiap hari Jum'at]? Membaca surat Yasin itu sendiri baik sekali, bahkan tiap membaca satu hurufnya akan diganjar satu pahala. Akan tetapi, mengkhususkannya dibaca setiap hari Jum'at saja karena meyakini akan keutamaannya untuk dibaca di hari Jum'at, maka yang seperti tidak ada landasan dalilnya dan justru menyelisihi syariat. Yang benar, bacaan surat Al-Qur'an yang dikhususkan dan disunnahkan untuk dibaca ketika hari Jum'at justru surat Al-Kahfi. Bukan Yasin.
Artinya, perkara ibadah tidak bisa "semau saya", mau begini oke, mau begitu juga boleh. Akan tetapi, pelaksanaannya haruslah sesuai dengan dalil.

► ISTIHSAAN dan KEADAAN AMALAN SESEORANG JIKA AMALANNYA TIDAK SESUAI SYARIAT

Istihsaan : memandang baik suatu perkara atau perbuatan.

Berhubung ibadah adalah perkara tauqiifiyyah [berpijak pada dalil], maka ibadah bukan berlandasan anggapan bahwa ini baik, itu baik, menurut akal manusia belaka. Akal manusia tentulah terbatas. Terlebih memang akal manusia memiliki sisi cela, tidak sempurna, tidak mampu menguak segala hikmah yang Allah berikan. Bisa jadi penilaian kita tentang baiknya sesuatu itu keliru. Maka, di sinilah urgensi beribadah sesuai dalil.

Seluruh perkara ibadah memang harus dilandasi dengan niat ikhlas untuk mengharap ridha-Nya. Akan tetapi, niat baik saja belum cukup, sebab tata laksana ibadahnya juga harus sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Terlebih, Rasuulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti dalam sabdanya,
"Barang siapa melakukan amalan ibadah yang bukan termasuk perintah kami, maka amalan itu tertolak." (HR.Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah menjelaskan dalam kitabnya,

    Sesungguhnya amalan yang diterima haruslah memenuhi dua syarat, yaitu :
  1. Hendaknya ikhlas untuk Allah semata,
  2. Amal tersebut benar [selaras dengan syariat]. Maka, ketika suatu amalan didasari keikhlasan, namun tidak benar, amal tersebut tidak diterima. Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa beramal ibadah yang bukan termasuk perintah kami, maka amalan itu tertolak.” (Tafsir Ibn Katsir, Juz 1, Hal 385 melalui Al-Maktabah Asy-Syaamilah)

Sayang kan, jika seseorang sudah letih beramal, susah payah, namun amalannya sia-sia dan tertolak karena tidak sesuai dengan syariat.


► TINJAUAN ULANG MENGENAI SISTEM ODOJ

Ada beberapa point yang hendaknya kita tinjau ulang sehubungan dengan pelaksanaan ODOJ, baik di tingkat pusat maupun di grup [karena bisa jadi setiap grup memiliki aturan yang berbeda dengan grup lainnya, walaupun memang ada aturan terpusat dari pihak "pusat"] yakni :

1. Mengejar Target Bacaan

Membaca Al-Qur'an memang salah satu ibadah yang mulia. Bagaimana tidak, membaca satu huruf saja sudah diberi pahala. Akan tetapi, membaca saja tidak cukup. Ada hal lain yang berhubungan dengan adab membaca Al-Qur'an yang perlu juga diperhatikan. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim/muslimah memberi perhatian juga terhadap penerapan hukum tajwid ketika membaca Al-Qur'an; mengetahui makna ayat, dan ini bisa dibaca melalui terjemahan Al-Qur'an; membaca tafsirnya; merenungkan ayat-ayatnya; mengambil 'ibrah/pelajaran darinya; mengamalkan dan kalau bisa malah menghafalnya. Idealnya, dalam sehari seorang muslim/muslimah hendaknya melakukan ini semuanya. Bagaimana caranya?

Dia membagi waktunya untuk membaca Al-Qur'an; membaca terjemahnya; menghafal; merenungkan maknanya. Bacalah saja apa yang mudah baginya, tanpa memberatkan dirinya [takalluf]…mau seperempat juz boleh, setengah juz monggo, satu juz silahkan, dua juz tafadhdhal [tafadhdhali] saja. Selama itu mudah baginya, lakukan saja SEMAKSIMAL MUNGKIN semampu dia, dengan disertai tajwidnya ya? Setelah itu, jangan ketinggalan juga untuk membaca terjemahnya; sembari mengkaji tafsirnya jika mungkin; menghafalnya juga dan mengamalkannya.

Dengan demikian, bukan hanya kuantitas banyaknya bacaan Al-Qur'an saja yang kita targetkan, namun juga kualitas bacaan harus kita pertimbangkan.

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman :
"Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an" (Qs. Al-Muzammil: 20)
"Apakah mereka tidak memikirkan Al-Qur`an? Sekiranya Al-Qur`an datangnya dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapatkan perselisihan yang sangat banyak." (An-Nisaa` : 82 )
Ibnu Jarir Ath-Thabari di dalam kitab tafsirnya membawakan suatu riwayat tentang bagaimana metode sahabat dalam belajar Al-Qur'an hingga mengamalkannya,
"Dari Abu 'Abdurrahman [As-Sulami –pen], dia berkata,' Telah berkata kepada kami orang-orang yang membacakan/mengajarkan Al-Qur`an kepada kami, bahwa ketika mereka meminta kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk mengajarkan Al-Qur'an kepada mereka, lalu apabila mereka telah mempelajari 10 ayat (Al-Qur`an) dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak menambahnya sehingga mereka mengetahui ilmu dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya. Mereka berkata: “Maka kami mempelajari Al-Qur`an, ilmu dan amal semuanya'" (Tafsir Ath-Thabari Juz 1, Hal 80, melalui Al-Maktabah Asy-Syaamilah)
Saya ambil contoh tentang pentingnya membaca dengan tajwid dan tartil. Hukum mempelajari tajwid adalah fardhu kifaayah. Akan tetapi, hukum membaca Al-Qur'an dengan tajwid bagi tiap individu adalah fardhu 'ain (Disarikan dari Buku "Panduan Praktis Tajwid dan Bid'ah-Bid'ah Seputar Al-Qur'an", buah pena Ustadz Abu Hazim, salah seorang murid Syaikh Muqbil yang pernah belajar di Daarul Hadiits, Dammaaj-Yaman)

Membaca dengan tajwid akan menjauhkan pembaca Al-Qur'an dari lahn/kesalahan yang bersifat khafi (kecil) dan jali (besar). Seseorang yang tidak mengetahui hukum tajwid, sangatlah mungkin melakukan kekeliruan bahkan hingga tingkat merubah arti. Fatalnya, jika kata yang berubah artinya menjadi bertolak belakang dengan yang terdapat dalam ayat tersebut.


Contoh dalam ayat berikut :


(وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ (٢٧

Firman Allah QS. Al-Qiyaamah ayat 27, antara kata man dan raaq itu ada saktah (memutus kalimat) untuk memberi jeda sekitar 1 alif atau 2 harakat, tanpa mengambil nafas. Jika pembaca Al-Qur'an belum belajar kaidah ilmu tajwid, sangat mungkin dia membaca biasa saja, yang mengharuskan huruf nun lebur ke huruf ra' (dibaca idgham bi laa ghunnah). Apa hasilnya? Arti katanya kan jadi "marraaq" ==> Orang yang kerjaannya bikin kaldu.

Cara membaca Al-Qur'an ada 3 atau empat macam, dan yang paling diutamakan adalah tartil.

a) Tartil : Membaca Al-Qur'an dengan pelan, tenang, sesuai dengan kaidah ilmu tajwid yang benar dan baik, seperti memanjangkan bacaan jika memang itu panjang, mengucapkan dengan dengung, dan sebagainya. Inilah jenis bacaan yang paling baik, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah :
"…dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil." (Qs. Al-Muzammil: 4)
b) Tadwir : Memabaca antara cepat dan lambat, dan masih menjaga kaidah ilmu tajwid.

c) Hadr : membaca dengan cepat, namun masih menjaga kaidahyang sesuai dengan ilmu tajwid, baik ditinjau dari segi mendengungkan bacaan; menjaga makhaarijul huruf dan sifat huruf.

d) Ada ulama yang membagi cara membaca ke jenis yang keempat yaitu Tahqiiq. Jenis bacaan ini sangat pelan, biasanya digunakan dalam proses belajar mengajar.

Jadi, sekali lagi, hendaknya kita juga memperhatikan kualitas bacaan Al-Qur'an juga [membaca dengan hukum tajwidnya, jenis bacaan yang paling utama adalah tartil], bukan hanya mengutamakan cepat-cepatan membaca demi mengejar kuantitas harus khatam 1 juz namun tidak tahu maknanya; tidak direnungkan ayat-ayat di dalamnya.


2. "Melelang" Bacaan

Seseorang yang dikata "khatam 1 juz", maka dialah sendiri yang menyelesaikannya. Apabila dia berhalangan, dan dia belum mampu menyelesaikan satu juz, maka sampai di situlah kadar kesanggupan dia untuk membaca. Lalu, persoalan melempar jatah sisa yang belum terbaca kepada yang lain merupakan perbuatan yang tidak ada landasan dalilnya. Dikhawatirkan, ini malah bisa-bisa termasuk ke dalam perbuatan "takalluf"/membebani diri. Kalau yang dilempar merasa kegirangan karena semakin besar kesempatan dia membaca Al-Qur'an, kenapa dia tidak menambah sendiri saja jatah bacaannya?

Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Maka bertakwalah kepada Allaah sesuai dengan kesanggupanmu…" (Qs. At-Taghabun: 16)
Mengejar target membaca Al-Qur'an bagi tiap individu itu baik, namun hendaknya tidak usah dipaksakan sedemikian rupa, hingga akhirnya malah terjerumus ke dalam perkara yang "tidak berlandaskan dalil".
Mohon diperhatikan baik-baik. Kami tidak menghalangi teman-teman sekalian untuk membaca Al-Qur'an, tidak melakukan "sirik tanda tak mampu", tidak hasad, tidak su'uzhzhan, dan komentar saya terkhusus untuk statemen semacam ini, ", katanya satu juz itu memberatkan" ==> Memberatkan atau tidak, itu disesuaikan kembali kepada individu. Kalau bagi A mudah, maka lakukanlah….kalau bagi B tidak begitu mudah, maka lakukan semampu yang dia bisa. Tetap jangan lupa, "bukan hanya mengejar kuantitas yaa tapi juga pertimbangkan kualitas." Bahkan sebaliknya, kami menyayangi kalian dan menghendaki kebaikan bagi kalian, meski pada akhirnya kalian harus menolaknya, tidaklah mengapa. Alhamdulillaah, minimal kebenaran sudah tersampaikan.

Ingin lancar baca Al-Qur'an? Pelajari juga tajwidnya ya Bu-Pak-Dik-Mas-Mba. Tanpa belajar tajwid dan pembiasaan, ya sama saja masih banyak keliru juga.


3. Membagi juz tertentu bagi peserta tertentu

Untuk tata laksana pada point ini sifatnya kasuistik. Artinya, bisa jadi di grup A ada, namun di grup B tidak ada. Jika Anda tidak menemukannya di grup Anda, maka berarti bukan Anda yang dimaksud, karena Anda keluar dari semesta pembicaraan. Hal yang seperti ini juga tidak ada landasan dalilnya.


► SOLUSINYA DONG ?

a) Bagi admin :

- Diharapkan meninjau ulang sistem ODOJ yang digunakan. Apabila ternyata ada yang menyelisihi syariat, maka hendaknya itu segera diperbaiki.

Ada baiknya jika pihak admin menghapuskan ketentuan berikut: lelang ayat, membagi per juz untuk diselesaikan hingga ada khatam grup setiap harinya…terus, tidak mengkhususkan bacaan doa khatam Al-Qur'an.

b) Bagi pembaca Al-Qur'an :

- Jika anda memiliki patokan target pribadi setiap harinya untuk membaca, maka bacalah juga dengan memperhatikan kaidah ilmu tajwid, sehingga bukan hanya untuk mengejar banyaknya target bacaan, namun melalaikan penerapan kaidah tajwid dalam bacaan. Tak lupa pula mohon disisihkan juga waktu untuk tadabbur; mengetahui makna ayat; menghafal bahkan mengamalkannya ya?

c) Setelah membaca Al-Qur'an, dianjurkan membaca doa yang disunnahkan :

Berikut doanya : Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika. Yang artinya: maha suci Engkau ya Allah sambil memuji-Mu. Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.

Selengkapnya, penjelasan tentang doa selepas membaca Al-Qur'an bisa dibaca disini :
http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran
d) Amalan yang tersembunyi.

Sebaik-baik amalan adalah amalan yang dilakukan secara sembunyi, kecuali jika ada mashlahat lebih besar apabila menampakkannya. Maka, akan jauh lebih baik buat saja target pribadi yang digunakan juga untuk diri sendiri. Ketika kita merasa kurang bersemangat karena ini dan itu, mungkin bagus juga dipasang reminder motivasi yang dapat tampak di mata, "Sudahkah Anda membaca Al-Qur'an hari ini? Berapa juz yang dapat Anda baca hari ini? Apakah Anda sudah merenungkan; menghayati; mengetahui maknanya dan tahu tafsirnya? Apakah Anda membaca dengan mempraktekkan kaidah tajwidnya?". Kemudian, Anda punya lembar tersendiri untuk check list progress yang Anda miliki sehubungan banyaknya bacaan Al-Qur'an yang telah Anda lakukan. Saya pikir ini lebih menjaga hati [saya tidak bilang bahwa Anda ini menyetor bacaan karena riya lho…tidak, tidak…urusan hati Anda kan Anda sendiri dan Allah yang tahu. Dalam hal ini saya menyarankan saja].

Tulisan Fatihdaya Khoirani :
https://www.facebook.com/ummuyazid.fa/posts/662715410440944

Sumber gambar :
http://itd0.mycdn.me/image?t=20&bid=835457803052&id=835457803052&plc=WEB&tkn=*ksV0DkefL_RU32BORlCwG4PB1Vc

8 komentar:

  1. kecendrungannya memang bila seseorg mengaji ditarget, dia akan memaksimalkan bacaan yg ingin dicapainya. Namun sygnya kaidah2 dlm bgmn membaca alquran itu tidak diperhatikannya. Misalnya yg seharusnya dibaca perlahan tartil tapi dilakukan secara tergesa-gesa. Ini tentunya tidak akan membekas diruhiyah seseorg.

    BalasHapus
  2. itu tergantung pribadinya sendiri sendiri... satu lembar boleh satu juz lebih baik lagi.. semua tergantung niatnya..

    BalasHapus
  3. Terimakasih banyak nih gan atas informasinya sangat bermanfaat sekali

    BalasHapus
  4. wah terimakasih info dan sharing ilmu yang sangat bermanfaat nih

    BalasHapus
  5. artikel yang bermanfaat dan menginspirasi,teriamasih sudah share :)

    BalasHapus
  6. Rasulullah tidak pernah memerintahkan pemberian tanda baca pada Alquran harkat fatha, kasrah, dhomma, dan titik . Jadi membaca Alquran dengan ilmu tajwid adalah tidak berdasar Alquran dan hadits. Apakah membaca Alquran dengan bersandar pada ilmu tajwid, juga ditolak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf pak aziz. Justru dalam tulisan diatas, salah satu yg ditekankan ialah membaca Al-Qur'an dengan kaidah tajwid yang baik dan benar. Tidak hanya target atau kuantitas bacaan, melainkan juga kualitas :)

      Hapus

Jangan lupa tinggalkan jejak ya
Trimakasih...